Dalam dunia pendidikan yang dinamis dan penuh tantangan, guru diharapkan mampu menghadapi tekanan pekerjaan dan kebutuhan siswa yang beragam. Salah satu pendekatan yang semakin relevan dan banyak dibahas adalah mindfulness. Melalui kegiatan pengabdian masyarakat, Universitas Nusantara PGRI Kediri, tim pengabdian dari Prodi Bimbingan dan Konseling yang terdiri dari Laelatul Arofah, M. Pd., Rosalia Dewi Nawantara, M. Pd., dan Yuanita Dwi Krisphianti, M. Pd, mengadakan pelatihan bertema “Guru Mindful, Guru Hebat: Mengelola Stres dan Menciptakan Harmoni di Lingkungan Sekolah“. Pelatihan ini bertujuan untuk mengajarkan guru teknik-teknik mindfulness sebagai cara untuk meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri serta kualitas pengajaran di kelas. Pelatihan ini diberikan kepada Komunitas Guru Belajar SMKN 1 Udanawu.
Mindfulness adalah kemampuan untuk hadir sepenuhnya di saat ini, memperhatikan segala sesuatu yang terjadi dengan sengaja dan tanpa penilaian. Dalam pendidikan, mindfulness membantu guru untuk lebih fokus pada apa yang sedang terjadi di kelas tanpa terjebak dalam distraksi atau kekhawatiran lain. Guru yang mindful dapat mengelola emosi dengan lebih baik, merespons siswa dengan sabar, dan menciptakan suasana kelas yang lebih positif dan harmonis.
Mindfulness memberikan banyak manfaat, baik bagi kesejahteraan guru secara pribadi maupun dalam konteks profesional. Pelatihan mindfulness membantu guru memahami pentingnya memperhatikan diri sendiri sehingga mereka dapat mengelola stres dengan lebih efektif. Selain itu, guru yang mampu menerapkan mindfulness dalam pengajaran akan lebih tenang dan mampu beradaptasi dalam situasi sulit, baik saat menghadapi siswa yang mengalami kesulitan belajar maupun saat beban kerja meningkat.
Pelatihan mindfulness yang diberikan kepada guru melibatkan beberapa teknik sederhana yang dapat langsung diterapkan di kelas maupun dalam kehidupan sehari-hari. Teknik-teknik ini meliputi:
- Mindful Breathing (Pernapasan Sadar)
Teknik ini mengajarkan guru untuk secara sadar memperhatikan pernapasan mereka. Dengan menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, guru dapat menenangkan pikiran dan meredakan stres. Teknik ini sangat bermanfaat sebelum memulai pelajaran atau ketika menghadapi situasi yang membuat stres.
- Body Scan (Pemindaian Tubuh)
Pemindaian tubuh membantu guru menjadi lebih sadar akan sensasi fisik yang mereka rasakan, dimulai dari kaki hingga kepala. Teknik ini membantu mengurangi ketegangan di tubuh yang sering kali tidak disadari namun menumpuk akibat stres.
- Mindful Listening (Mendengarkan dengan Penuh Perhatian)
Guru diajarkan untuk mendengarkan siswa dengan sepenuh hati tanpa tergesa-gesa menghakimi atau memberikan respon yang terburu-buru. Dengan mendengarkan secara mindful, guru dapat lebih memahami perasaan dan kebutuhan siswa, yang pada akhirnya menciptakan interaksi yang lebih positif.
- Refleksi Mindful
Setiap akhir hari, guru didorong untuk meluangkan waktu beberapa menit untuk merefleksikan kegiatan yang telah mereka lakukan. Refleksi ini dilakukan tanpa memberikan penilaian baik atau buruk, melainkan hanya menyadari apa yang telah terjadi dan bagaimana perasaan mereka selama proses tersebut.
Penerapan mindfulness tidak hanya bermanfaat bagi guru, tetapi juga bagi siswa. Guru yang terlatih dalam mindfulness mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih tenang dan penuh perhatian, di mana siswa merasa didengarkan dan didukung. Sebelum memulai pelajaran, guru dapat mengajak siswa untuk melakukan latihan pernapasan sederhana untuk membantu mereka menenangkan diri dan fokus pada materi yang akan diajarkan.
Selain itu, teknik mindful listening memungkinkan guru untuk benar-benar hadir saat mendengarkan pertanyaan atau keluhan siswa, sehingga interaksi di kelas menjadi lebih efektif dan penuh empati. Ini juga dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan kesadaran penuh mereka sendiri, yang penting dalam proses belajar mereka.
Dalam pelatihan ini, aspek-aspek penting dari mindfulness seperti welas asih (compassion) dan pengampunan (forgiveness) juga ditekankan. Guru diajak untuk tidak hanya berfokus pada diri sendiri, tetapi juga untuk lebih memahami perasaan dan kebutuhan siswa. Welas asih memungkinkan guru melihat siswa sebagai individu yang sedang belajar, dengan tantangan dan kesulitan mereka masing-masing. Dengan demikian, guru dapat merespons kesulitan siswa dengan penuh empati dan pengertian. Pengampunan, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain, adalah bagian penting dari mindfulness. Dalam pengajaran, sering kali terjadi kesalahan atau situasi yang tidak berjalan sesuai rencana. Melalui mindfulness, guru belajar untuk melepaskan rasa bersalah atau kemarahan dan melanjutkan tugas mereka dengan hati yang lebih terbuka.
Meskipun manfaat mindfulness sangat jelas, penerapannya dalam kegiatan sehari-hari sering kali menemui beberapa tantangan. Salah satu tantangan utama adalah waktu. Guru sering kali merasa terburu-buru dengan beban kerja yang tinggi, sehingga sulit meluangkan waktu untuk melatih mindfulness. Namun, pelatihan ini menunjukkan bahwa bahkan beberapa menit mindfulness sehari dapat membawa dampak yang signifikan.

Penerapan mindfulness tidak hanya bermanfaat bagi individu guru, tetapi juga bagi lingkungan sekolah secara keseluruhan. Sekolah yang menerapkan mindfulness sebagai bagian dari budaya kerja akan menciptakan suasana yang lebih harmonis, di mana semua pihak yaitu guru, siswa, dan staf merasa lebih tenang dan termotivasi. Suasana ini mendukung proses belajar mengajar yang lebih efektif dan produktif. Berikut beberapa dokumentasi dalam pemberian pelatihan mindfulness:
Melalui pelatihan mindfulness, guru mendapatkan keterampilan untuk mengelola stres, meningkatkan kualitas pengajaran, dan menciptakan suasana kelas yang lebih tenang dan suportif. Pengabdian masyarakat ini menjadi langkah awal yang penting untuk memperkenalkan mindfulness ke dalam dunia pendidikan, sehingga guru dan siswa dapat merasakan manfaatnya dalam jangka panjang. Dengan mindfulness, guru tidak hanya mengajar dengan kata-kata, tetapi dengan kehadiran penuh dan empati, membuka jalan menuju pembelajaran yang lebih mendalam dan bermakna.
(Laelatul Arofah1, Rosalia Dewi Nawantara², Yuanita Dwi Krisphianti³)