Numerasi merupakan kemampuan berfikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari. Namun, hasil berbagai asesmen menunjukan bahwa kemampuan numerasi Indonesia masih perlu ditingkatkan. Keterbatasan pemahaman konsep matematika dan minimnya pengalaman menerapkan matematika dalam kehidupan nyata menjadi salah satu kendalanya. Oleh karena itu perlu adanya upaya sistematis untuk memperkuat kemampuan numerasi siswa sejak dini.
Sasaran kegiatan pengabdian kepada masyarakat tentang perancangan sarana fisik untuk memberikan stimulus numerasi dan lingkungan berkarya yang memfasilitasi interaksi numerasi, dan perancangan modul ajar mapel matematika yang mengaitkan matematika dengan kehidupan nyata serta penyusunan modul ajar mapel non matematika yang mengintegrasikan kegiatan numerasi adalah kepala sekolah dan guru-guru di SDN Bendet Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang.
Berdasarkan permasalahan yang dihadapi oleh SDN Bendet dimana terdapat empat puluh persen peserta didik belum mencapai kemampuan minimum numerasi. Artinya peserta didik di SDN Bendet tersebut memerlukan penguatan di lingkungan akademis agar kemampuan bernalar untuk menyelesaikan masalah kompleks serta non-rutin berdasarkan konsep matematika dapat meningkat. Sedangkan yang menjadi akar masalahnya adalah kurangnya kemampuan numerasi peserta didik tersebut dipengaruhi oleh kurangnya kualitas pembelajaran terutama pada sub indicator metode pembelajaran dan manajemen kelas. Domain kurangnya refleksi dan perbaikan pembelajaran oleh guru juga menjadi akar masalah kurangnya kemampuan numerasi peserta didik. Terutama pada aspek penerapan praktik inovatif dan refleksi atas praktik pembelajaran.
Menghadapi kenyataan diatas diperlukan solusi yang sesuai untuk agar peningkatan kemampuan numerasi siswa dapat tercapai. Selama ini kemampuan numerasi dianggap sebagai tanggung jawab guru matematika. Dimana pembelajarannya bersifat konvensional yang terpaku pada buku teks dan soal-soal matematika yang monoton. Hal ini membuat siswa merasa jenuh dan kesulitan untuk menghubungkan konsep matematika dengan kehidupan nyata. Padahal numerasi adalah ketrampilan yang sangat penting dalam menghadapi tantangan dunia modern ini. Oleh karena itu, perlu adanya pendekatan pembelajaran dan yang lebih inovatif dan menarik untuk meningkatkan minat dan pemahaman numerasi siswa baik dalam pembelajaran matematika yang diintegrasikan dalam kegiatan numerasi kehidupan sehari-hari dan pembelajaran non matematikan yang mengintegrasikan numerasi. Serta untuk meningkatkan kemampuan numerasi peserta didik akan dilakukan peningkatan sarana kaya numerasi dan kegiatan numerasi sederhana untuk memberikan stimulus numerasi dan lingkungan berkarya yang memfasilitasi interaksi numerasi di SDN Bendet.
Pelatihan penyusunan tentang perancangan sarana fisik untuk memberikan stimulus numerasi dan lingkungan berkarya yang memfasilitasi interaksi numerasi, dan perancangan modul ajar mapel matematika yang mengaitkan matematika dengan kehidupan nyata serta penyusunan modul ajar mapel non matematika yang mengintegrasikan kegiatan numerasi.
Setelah dilakukan telaah kebutuhan materi pelatihan maka selanjutnya dilaksanakan pelatihan tentang peningkatan kemampuan numerasi siswa melalui strategi penguatan numerasi pada lingkungan akademik. Kegiatan ini diberikan dalam pelatihan agar peserta memiliki pengetahuan dan pemahaman yang memadai terkait penyusunan modul ajar yang dapat mengakomodir kegiatan numerasi. Materi ini terdiri atas: pemaparan tentang sarana fisik untuk memberikan stimulus numerasi dan lingkungan berkarya yang memfasilitasi interaksi numerasi, pemaparan tentang implementasi penguatan numerasi pada lingkungan akademis, pemaparan tentang praktik baik pembelajaran numerasi di sekolah. Perancangan sarana fisik untuk memberikan stimulus numerasi dan lingkungan berkarya yang memfasilitasi interaksi numerasi, perancangan modul ajar mengaitkan matematika dengan kehidupan nyata, perancangan modul ajar mapel non matematika yang mengintegrasikan kegiatan numerasi.
Langkah pertama kegiatan pelatihan adalah pelatihan penyusunan tentang perancangan sarana fisik untuk memberikan stimulus numerasi dan lingkungan berkarya yang memfasilitasi interaksi numerasi, dan perancangan modul ajar mapel matematika yang mengaitkan matematika dengan kehidupan nyata serta penyusunan modul ajar mapel non matematika yang mengintegrasikan kegiatan numerasi. Materi yang disampaikan meliputi; panduan penguatan numerasi di sekolah, strategi penguatan numerasi di lingkungan akademik dan praktik baik pembelajaran numerasi. Kegiatan penyampaian materi pelatihan ini ditunjukan di gambar 1.

Gambar 1 Penyampaian Materi Tentang Strategi Penguatan Numerasi Di Lingkungan Akademik melalui Proyek Real World
Kegiatan selanjutnya adalah kegiatan pelatihan menyusunan modul ajar yang mengintegrasikan numerasi baik untuk mapel matematika maupun non matematika. Pada kegiatan ini guru menyusun kegiatan numerasi lalu menuliskannya dalam modul ajar, setelah itu perwakilan guru mempresentasikannya untuk mendapatkan masukan dari peserta lain.
Berikut ini kutipan LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik) sebagai bagian dari modul ajar yang telah disusun oleh guru PAI (Pendidikan Agama Islam). Dalam modul ajar ini kegiatan numerasi diintegrasikan dalam mapel PAI dimana mapel ini memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan akhlak mulia siswa. Di sisi lain, numerasi memberikan siswa kemampuan untuk memahami, mengolah, dan menganalisis informasi secara kritis, yang sangat relevan dalam pengambilan keputusan sehari-hari. Dengan memasukkan numerasi ke dalam PAI, siswa tidak hanya mendapatkan pemahaman nilai-nilai agama, tetapi juga keterampilan praktis yang dapat mereka gunakan untuk menyelesaikan masalah nyata. Misalnya, siswa dapat memahami pentingnya pengelolaan zakat, infaq, dan sedekah dengan menghitung jumlah yang harus dikeluarkan berdasarkan nishab dan haul. Dengan mengintegrasikan numerasi, siswa diajak untuk berpikir logis dan analitis, yang selaras dengan pembentukan generasi yang religius dan cakap menghadapi tantangan zaman. Berikut ini kegiatan yang menyisipkan numerasi dalam pembelajaran PAI di Sekolah Dasar Negeri Bendet.

Gambar 2 Contoh LKPD pengintegrasian numerasi di mapel PAI untuk kelas 1
LKPD yang disusun guru tersebut siswa mempelajari jenis-jenis harakat melalui aktivitas numerasi yaitu dengan menghitung jumlah harakat yang muncul dalam ayat sederhana dan dapat mengelompokkan harakat berdasarkan jenisnya. Dalam kegiatan ini terdapat kegiatan-kegiatan yang dapat memperkuat kemampuan numerasi siswa, yang berada pada tingkat rendah, walau dalam mapel non matematika.
Pelatihan ini untuk mapel matematika juga didorong dalam pembelajarannya untuk mengenalkan numerasi dalam pembelajaran yang mengitegrasikan pelajaran matematika dalam kegiatan peserta didik sehari-hari (real world) yang tidak terpaku pada penggunaan buku tek. Contoh LKPD yang disusun guru untuk mapel matematika disajikan pada gambar 3:


Gambar 3 LKPD Mapel Matematika tentang Konsep Rasio untuk Kelas 4
Pada LKPD diatas pengenalan konsep ratio melalui kegiatan proyek menganalisis dan membandingkan jumlah benda berdasarkan warna permen. Pertama peserta didik menghitung dan mengklasisikasikan permen sesuai dengan warnanya, kemudian peserta didik menghitung rasio perbandingan jumlah permen setiap warna, terakhir peserta didik melaporkan temuan mereka pada diskusi kelas. Berikut di gambar 4 media permen yang digunakan guru pada proyek pengenalan rasio ini:

Gambar 4 Media Realia Permen Warna-Warni Untuk Memperkenalkan Konsep Rasio
Selain penyusunan modul ajar yang mengitegrasikan kegiatan numerasi, pelatihan ini juga memberikan materi tentang pengembangan sarana fisik untuk memberikan stimulus numerasi dan lingkungan berkarya yang memfasilitasi interaksi numerasi. Sarana yang telah disusun adalah sebagai berikut:

Foto 3 Alat pengukur tinggi badan sebagai sarana interaksi numerasi
Pada gambar tiga terdapat sarana alat pengukur tinggi badan yang diletakkan di luar kelas dan ditempat yang mudah dijangkau oleh semua peserta didik. Hal ini mempermudah peserta didik untuk dapat melaksanakan kegiatan berkarya terkait pengukuran tinggi badan. Sarana ini membuat siswa menjadi terbiasa berinterkasi dengan angka dalam kehidupan sehari-hari dan memiliki kesadaran tentang pentingnya kemampuan numerasi dalam kehidupan.
Setelah pelaksanaan pelatihan ini dapat disimpulkan bahwa secara umum pelaksanaan dapat berjalan sesuai dengan rencana. Kegiatan pelatihan ini membimbing guru-guru agar mempunyai kepercayaan diri untuk modul ajar, alat peraga matematika dan lingkungan berkarya numerasi untuk meningkatkan kemampuan numerasi siswa dengan menyusun proyek-proyek yang dekat dengan penerapan numerasi di kehidupan sehari-hari (real world) peserta didik. Untuk selanjutnya guru dapat mengembangkan modul ajar tersebut dengan tema-tema yang beragam. Namun demikian, tim PKM menyadari masih terdapat kekurangan dalam pelaksanaan PKM ini, yaitu belum tuntasnya penyusunan kegiatan lingkungan berkarya numerasi yang lebih bervariasi. Hal ini memerlukan focus tersendiri sehingga akan ditindaklanjuti pada kegiatan PKM selanjutnya.
Berdasarkan pelaksanaan pelatihan ini, tim PKM merekomendasikan kepada guru-guru di SDN Bendet dapat terus meningkatkan kemampuan dalam menyusun modul ajar baik mata pelajaran matematika dan non matematika yang mengitegrasikan kegiatan numerasi sehingga kemampuan numerasi siswa dapat meningkat. Selanjutnya guru-guru di SDN Bendet dapat meningkatkan kemampuan dalam menyusun media pembelajaran yang terkait kegiatan numerasi. Lalu Kepala sekolah dan guru dapat meningkatkan fasilitas lingkungan berkarya numerasi di sekolah sehingga siswa menjadi terekspos dengan kegiatan numerasi dalam kehidupan sehari-hari. Tidak kalah pentingnya Kepala sekolah SDN Bendet dapat merencanakan kegiatan berbagi pratik baik tentang penguatan numerasi di lingkungan akademik kepada sekolah lain sehingga kegiatan penguatan numerasi ini dapat lebih merata.
(Yunik Susanti1, Diani Nurhajati2, Dewi Kencanawati3, Risa Ananda Yuanita4, Rizka Clarissa5)